kita kerja itu sebenarnya untuk sih?
cari duit?
trus, duitnya untuk apa?
kata orangtua, jangan terlalu memaksakan diri dalam mengejar materi
“rejeki kui dioyak mlayu, ditinggal nututi “, itu kata simbahku
terjemahan bebasnya : kalau sudah rejeki, gak bakalan ke mana-mana bos !!!!
so, ngapain terlalu keras berusaha, sampai melupakan segala-galanya
benar kata rasulullah saw…beribadahlah seolah-olah kau mati esok hari, bekerjalah seolah-olah kau hidup selamanya
bekerja harus selaras dengan beribadah…dg kata lain, bekerja itu ya beribadah!
kalau cuma bekerja–tanpa ada embel2 beribadah, nol besar!!!
so…mulai di-review lagi deh
kita bekerja selama ini just hanya sekadar kerja doang, dg cita2 akhir mendapatkan uang….or sudah dg tujuan yg lebih mulia, beribadah?
karena kalo kita kerja hanya dg tujuan cari duit, ya cuma duit itu yg bakal kita dapat.
Sekarang yang perlu kita pikirkan itu, apa kita itu selalu ingat sama yang membuat kita hidup, bernafas dll.
pikir donk…..jangan uang melulu ? $$$$$$ ?
sampek tuwek sampek, matek yooo duwek tok pikirane…..

Ibnu Khaldun dikenal sebagai seorang sejarawan terkemuka. Lewat Kitab Almuqadimmah yang ditulisnya, Ibnu Khaldun menjadi salah seorang intelektual Muslim legendaris sepanjang masa. Selain berkontribusi pada bidang sejarah, politik dan ekonomi, Ibnu Khaldun pun mencurahkan pikirannya dalam bidang pendidikan. Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan yang berasal dari pemikiran yang alami. Sedangkan pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau seseorang yang berkuasa. Menurut dia, ketika seorang anak baru dilahirkan, maka sang bayi belum memiliki ilmu. ”Bayi itu seumpama sebuah bahan mentah yang harus diberi isi yang baik supaya menjadi orang dewasa yang berguna kelak,” tutur Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengungkapkan, setiap orang mendapatkan ilmu pengetahuan melalui organ-organ tubuh yang diberikan oleh Tuhan. ”Kita belajar menggunakan mata, telinga, mulut, kaki, dan tangan. Semua organ tubuh itu mendukung kita dalam proses pembelajaran demi mendapat ilmu pengetahuan,” ungkapnya. Ibnu Khaldun juga membagi ilmu pengetahuan berdasarkan tingkat pemikiran yaitu: Pengetahuan praktis yang merupakan hasil dari memahami intelijen. Sehingga membuat kita mampu melakukan apapun di dunia dalam sebuah tatanan. Pengetahuan tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus tidak kita lakukan. Hal ini berkaitan dengan apa yang baik dan apa yang buruk. Nilai-nilai tentang kebaikan dan keburukan bisa diperoleh dari intelijen empirik dan dapat diterapkan untuk menuntun kita saat berhubungan dengan orang lain. Menurut dia, mengajarkan ilmu pengetahuan itu sangat penting, karena ilmu pengetahuan akan lebih mudah diperoleh manusia dengan bantuan dan ajaran gurunya.
Sejak kita bertemu seakan duniaku bermulai
“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”
Cinta adalah anugerah dari Tuhan yang maha esa yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Cinta antara laki-laki dan perempuan telah ada sejak manusia pertama turun ke dunia hingga sekarang. Cinta merupakan bumbu penyedap hidup yang sementara ini yang dapat memberikan kebahagiaan yang sejati.


